Taman nasional berdasarkan keputusan Menteri Kehutanan RI No. 687/KPTS-II/1989 didefinisikan sebagai kawasan pelestarian alam yang dikelola dengan sistem zonasi. Sedangkan berdasarkan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990, taman nasional adalah suatu kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata dan rekreasi. Tujuan utama dari taman nasional adalah menjaga keutuhan keterwakilan ekosistem yang berarti melindungi ekosistem itu dari kerusakan dan merehabilitasi kembali apa yang sudah terlanjur rusak, selain itu harus ada upaya menghilangkan sebab kerusakan dan menghentikan kegiatan perusakan. Salah satunya adalah kawasan leunser.

Sejak ditetapkan sebagai kawasan strategis berdasarkan Keputusan Presiden No. 33 Tahun 1998 Tentang Pengelolaan Kawasan Ekosistem Leuser (KEL), status KEL ditingkatkan menjadi Kawasan Strategis Nasional berdasarkan PP No. 28 Tahun 2008. Penetapan luas  2.600.000 hektar, dengan fungsi perlindungan, karena posisinya yang strategis. Penetapan ini dibuat dengan pertimbangan faktor-faktor bentangan alam, karakteristik khas flora dan fauna, keseimbangan habitat dalam mendukung keseimbangan hidup keanekaragaman hayati.

Di Indonesia salah satu KEL terletak di Provinsi Sumatera Utara dan Nanggroe Aceh Darussalam. Dalam Kawasan Ekosistem Leuser terdapat Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Nama TNGL diambil dari Gunung Leuser yang membentang di kawasan tersebut dengan ketinggian mencapai 3.404 meter (m) diatas permukaan laut (dpl). Bersama dengan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan dan Taman Nasional Kerinci Seblat, TNGL ditetapkan oleh UNESCO pada tahun 2004 sebagai situs warisan dunia, Tropical Rainforest Heritage of Sumatra pada tahun 2004. Sebelumnya, TNGL juga telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai Cagar Biosfer pada tahun 1981, dan ASEAN Heritage Park pada tahun 1984.

TNGL yang luasnya mencapai 2,6 juta ha dan juga sebagai rumah terakhir bagi Orangutan sumatera yang sangat terancam punah. KEL merupakan habitat yang kompleks dengan keanekaragaman hayati yang tinggi, namun sekaligus rentan. Selain orangutan, terdapat juga sejumlah spesies hewan dan tumbuhan khas, seperti Bunga Titan Arum. Secara alami faktor flora dan fauna terintegrasi kedalam eksositem yang jika salah satu satu komponennya terganggu bisa menyebabkan gangguan pada komponen lainnya. Sehingga pelestarian KEL perlu dilakukan jika tidak ingin ekosistem strategis tersebut rusak.

        KEL merupakan laboratorium alam yang kaya keanekaragaman hayati sekaligus juga merupakan ekosistem yang rentan. Leuser memperoleh skor tertinggi untuk kontribusi konservasi terhadap kawasan konservasi di seluruh kawasan Indo-Malaya. Leuser merupakan habitat sebagian besar fauna, mulai dari mamalia, burung, reptil, ampibia, ikan, dan invertebrata. Hampir 65% atau 129 spesies mamalia dari 205 spesies mamalia besar dan kecil di Sumatera tercatat ada di tempat tersebut. Dengan kawasan hijau yang sangat luas, KEL  merupakan salah satu paru-paru dunia yang memiliki peran penting dalam menjaga kestabilan Sistem Penyangga Kehidupan (Life Support System).
Aceh: Kawasan Ekosistem Leuser
          KEL menjaga suplai air bagi lima juta lebih masyarakat yang tinggal di Provinsi Aceh dan puluhan juta lainnya di Provinsi Sumatera Utara. Hampir sembilan Kabupaten bergantung pada manfaat KEL, antara lain; berupa ketersediaan air konsumsi, air pengairan, sistem penjaga kesuburan tanah, mengendalikan banjir, dan sebagainya. Selain itu, ada lima Daerah Aliran Sungai di Aceh dan tiga Daerah Aliran Sungai di Sumatera Utara yang dilindungi oleh KEL. Lima Daerah Aliran Sungai (DAS) di wilayah Provinsi Aceh, yaitu DAS Jambo Aye, DAS Tamiang-Langsa, DAS Singkil, DAS Sikulat- Tripa, dan DAS Baru-Kluet. Sedangkan yang beradadi wilayah Provinsi Sumatera Utara adalah DAS Besitang, DAS Lepan, dan DAS Wampu Sei Ular.

Ancaman Revisi RTRW
Gubernur Aceh Zaini Abdullah, tanggal 16 Agustus 2016, telah mengirimkan surat kepada Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya. Isinya, permintaan revisi sebagian zona inti Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) menjadi zona pemanfaatan. Serta, memberi izin kepada PT. Hitay Panas Energy untuk melakukan eksplorasi panas bumi di daerah tersebut. Dalam surat Nomor: 677/14266 perihal dukungan pengembangan potensi panas bumi oleh PT. Hitay Panas Energy disebutkan, berdasarkan Qanun Nomor 19 Tahun 2013 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Aceh tahun 2013-2033 sudah ditetapkan sistem jaringan energi Aceh. Antara lain memuat rencana pembangkit listrik tenaga panas bumi di Kabupaten Gayo Lues. Namun, rencana itu terkendala karena arealnya berada dalam kawasan TNGL yang terindikasi pada zona inti. Adapun, Dinas Kehutanan Aceh memastikan rencana perubahan ini tak akan mengganggu habitat satwa langka yang ada. Kepala Dinas Kehutanan Aceh Husaini Syamaun menyebutkan, nantinya perubahan tersebut dimanfaatkan untuk pengembangan potensi panas bumi.

Namun sejak penghapusan KEL dari Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Aceh, volume investasi tambang, kebun sawit dan illegal logging mengalami peningkatan. Investasi ini meminimalkan daya dukung KEL sebagai daerah tangkapan air dan keberlangsungan keanekaragaman hayati di sana. Penghapusan KEL dari RTRW Aceh membahayakan keanekaragaman hayati, manusia, budaya dan daerah tangkapan air. Kejadian itu mendapat tanggapan dari Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Aceh, Muhammad Nur bahwa dia menolak rencana perubahan zona inti TNGL karena akan berdampak buruk pada kehidupan masyarakat dan lingkungan. Dia juga mengatakan bahwa, Qanun Aceh Nomor 19 Tahun 2013 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Aceh Tahun 2013 – 2033, yang menjadi dasar Gubernur Aceh untuk mengajukan surat permohonan, tidak mengakui Kawasan Ekosistem Leuser yang di dalamnya terdapat Taman Nasional Gunung Leuser sebagai Kawasan Strategis Nasional (KSN).

Perubahan zonasi inti TNGL menjadi zona pemanfaatan, serta memberi izin eksplorasi kepada PT. Hitay Panas Energi bukanlah sikap bijak yang akan menjadi preseden buruk di masa mendatang. Faktanya kawasan TNGL terus rusak oleh penebangan liar dan perkebunan liar. Pemberian ijin ekplorasi di zona inti akan mempermudah kerusakan ekosistem karena memang tidak ada hukum yang melandasi pelarangan tindakan tersebut. Disayangkan sekali, kawasan TNGL yang menjadi Cagar Biospher dan Asean Heritage Park satu-satunya kawasan hutan di dunia sebagai habitatnya gajah sumatera, badak sumatera, harimau sumatera dan orangutan sumatera akan rusak hanya sekedar akan dilakukannya potensi panas bumi oleh PT. Hitay Panas Energy.

Mengingat pentingnya keberadaan ekosistem dan keanekaragaman hayati, maka sudah seharusnya pemerintah memberikan perlindungan serta payung hukum yang bisa menjamin keberlangsungannya di masa depan. Di Aceh, Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) adalah mata rantai utama bagi lingkungan sekitarnya. Upaya untuk melindunginya harus ditempuhdengan tetap memasukkannya dalam perencanaan ruang, serta tidak menurunkan statusnya karena pertimbangan pragmatis. []

Sebelum Setelah